Nama turnamen ini hampir selalu punya tempat khusus dalam kalender penggemar bulu tangkis. All England Open bukan sekadar ajang perebutan gelar, tetapi juga bagian penting dari sejarah perkembangan badminton dunia. Usianya yang panjang membuat setiap pertandingan di dalamnya membawa tradisi sekaligus tekanan besar bagi para pemain.
Sejarah All England Open dari Masa ke Masa

Cikal bakal All England bermula dari keberhasilan turnamen terbuka pertama di dunia yang digelar di Guildford pada 1898. Setahun kemudian, tepatnya 4 April 1899, penyelenggaraan All England pertama berlangsung di London. Pada awalnya, kompetisi ini belum mempertandingkan semua nomor seperti sekarang.
Dua edisi pertama menggunakan nama Badminton Association Tournament. Saat itu hanya terdapat nomor ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Nomor tunggal putra dan tunggal putri kemudian ditambahkan pada penyelenggaraan berikutnya, membuat format kompetisinya semakin lengkap.
Awalnya Dianggap Kejuaraan Tidak Resmi
Dalam perjalanan sejarahnya, All England juga sempat memiliki posisi yang sangat istimewa. Setelah Thomas Cup pertama digelar pada 1949 hingga federasi internasional meluncurkan kejuaraan dunia resmi pada 1977, All England bahkan dianggap sebagai kejuaraan dunia tidak resmi.
Turnamen ini memang tidak berjalan tanpa gangguan. Perang Dunia I membuat penyelenggaraannya terhenti pada 1915-1919, sedangkan Perang Dunia II kembali menghentikan kompetisi pada 1940-1946. Setelah melewati periode tersebut, All England terus berkembang dan mempertahankan statusnya sebagai turnamen penting dalam kalender badminton.
Baca Juga: 10 Istilah dalam Badminton: Sering Muncul di Turnamen Internasional

Dari London hingga Birmingham
Salah satu bagian menarik dari sejarah All England adalah perpindahan lokasi penyelenggaraannya. Turnamen ini tidak selalu berlangsung di Birmingham seperti sekarang. Selama lebih dari satu abad, All England telah menggunakan sejumlah venue di Inggris. Pada periode 1899-1901, pertandingan berlangsung di HQ London Scottish Regiment Drill Hall di Buckingham Gate.
Kemudian turnamen berpindah ke Crystal Palace pada 1902 dan London Rifle Brigades City Headquarters pada 1903-1909. Venue berikutnya adalah Royal Horticultural Hall yang digunakan selama 1910-1939. Setelah Perang Dunia II, kompetisi kembali digelar di Harringay Arena, kemudian Empress Hall di Earls Court, sebelum akhirnya menggunakan Wembley Arena pada 1957-1993. Sejak 1994, All England menetap di Birmingham.
Mengapa All England Open Begitu Bergengsi?
Status All England saat ini bukan hanya ditentukan oleh usianya. Dalam sistem BWF World Tour, turnamen ini masuk kategori Super 1000, yaitu salah satu level tertinggi dalam rangkaian kompetisi profesional. Super 1000 juga menjadi level tempat All England bersanding dengan China Open, Indonesia Open, dan Malaysia Open.
Menawarkan poin ranking serta hadiah yang besar, turnamen pada kategori ini biasanya menjadi tujuan utama pemain elite dunia. Sejarah panjang membuat All England mempunyai nilai prestise yang berbeda. Gelar di turnamen ini bukan sekadar tambahan koleksi trofi, tetapi juga menjadi bagian dari catatan karier pemain. Itulah sebabnya pertandingan All England sering terasa berbeda, tradisi lama bertemu dengan persaingan badminton modern.
Juara All England yang Paling Berkesan
Melihat daftar Juara All England, Anda akan menemukan nama-nama besar dari berbagai generasi dan negara. Rekor gelar juga menunjukkan bahwa dominasi dalam turnamen ini pernah berpindah dari Inggris ke Denmark, China, Indonesia, Korea, Malaysia, hingga negara lainnya. Pada catatan historis yang tersedia hingga 2016, Inggris menjadi negara dengan koleksi gelar terbanyak, yakni 197 gelar.
Denmark berada di posisi berikutnya dengan 87 gelar, disusul China dengan 79 gelar dan Indonesia dengan 42 gelar. Indonesia sendiri memiliki hubungan kuat dengan All England. Nama-nama seperti Pullela Gopichand, Lin Dan, Lee Chong Wei, Mohammad Ahsan, Hendra Setiawan, serta pasangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir tercatat sebagai pemenang pada periode yang tercantum dalam sumber.
1. Rudy Hartono dan Rekor Tunggal Putra
Dalam sejarah All England, Rudy Hartono menjadi salah satu nama yang paling ikonik. Ia memegang rekor delapan gelar tunggal putra, sebuah pencapaian yang menunjukkan konsistensi luar biasa di tengah persaingan elite. Rekor tersebut juga menjadi gambaran sulitnya mempertahankan dominasi dalam turnamen bergengsi ini.
2. Judy Devlin di Tunggal Putri
Pada sektor tunggal putri, Judy Devlin memiliki catatan yang tidak kalah mengesankan dengan 10 gelar All England. Jumlah tersebut memperlihatkan bagaimana seorang pemain dapat mendominasi kompetisi dalam periode tertentu. Prestasinya sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah panjang turnamen.
Baca Juga: Sejarah Bulutangkis Dunia dan Indonesia, dari Halaman Desa ke Panggung Dunia

3. George Alan Thomas dan Dominasi Multinomor
George Alan Thomas menunjukkan dominasi luar biasa di lebih dari satu nomor pertandingan. Ia mengoleksi empat gelar tunggal putra, sembilan gelar ganda putra, dan delapan gelar ganda campuran. Mendapati total 21 gelar, namanya tercatat sebagai salah satu pemain tersukses dalam sejarah All England.
4. Meriel Lucas di Ganda Putri
Meriel Lucas juga meninggalkan catatan penting dalam sejarah All England dengan total 17 gelar. Sepuluh gelar diraih dari tunggal putri, sementara lima lainnya berasal dari ganda putri. Catatan tersebut menunjukkan kemampuan kompetitifnya untuk bersaing dan meraih prestasi di lebih dari satu nomor.
5. Dominasi Inggris pada Era Awal
Jika melihat perolehan gelar berdasarkan negara, Inggris memiliki keunggulan historis yang sangat kuat dalam All England. Hingga periode data yang tersedia, Inggris tercatat mengoleksi 197 gelar. Jumlah tersebut mencakup 58 gelar ganda campuran dan 45 gelar ganda putri dari berbagai era.
6. Indonesia Mulai Menancapkan Pengaruh
Indonesia menjadi salah satu negara Asia dengan catatan kuat dalam sejarah All England. Berdasarkan data hingga 2016, Indonesia telah mengumpulkan 42 gelar dari berbagai nomor pertandingan. Tradisi tersebut kemudian berlanjut melalui sejumlah pemain dan pasangan ganda Indonesia dari generasi ke generasi.
7. Era Modern dan Status Super 1000
All England terus mengalami perubahan status seiring perkembangan sistem kompetisi BWF. Turnamen ini berstatus Super Series pada 2007, kemudian meningkat menjadi Super Series Premier pada 2011. Sejak BWF World Tour diperkenalkan pada 2018, All England masuk kategori Super 1000.
Baca Juga: 6 Event Bulutangkis Terbesar dan Paling Bergengsi, Bukan Sekedar Turnamen!

Juara dalam Beberapa Edisi Terakhir
Perjalanan modern All England juga memperlihatkan pergantian juara yang menarik. Pada 2023, Li Shi Feng menjadi juara tunggal putra, sementara An Se Young memenangkan tunggal putri. Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto keluar sebagai juara ganda putra. Pada 2024, giliran Jonatan Christie yang memenangkan tunggal putra.
Carolina Marin menjuarai tunggal putri, sedangkan Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto kembali memenangkan ganda putra. Edisi 2025 kemudian menghasilkan Shi Yu Qi sebagai juara tunggal putra dan An Se Young sebagai juara tunggal putri. Pada ganda putra, Kim Won Ho dan Seo Seung Jae menjadi pemenang.
All England dan Daya Tariknya
Ada alasan mengapa pertandingan All England selalu menarik untuk diikuti. Format kompetisi modern mempertemukan pemain-pemain papan atas, sementara status Super 1000 membuat poin dan prestasi yang diperebutkan sangat bernilai dalam perjalanan ranking dunia. Di sisi lain, unsur sejarah memberikan lapisan cerita yang tidak dimiliki semua turnamen.
Ketika seorang pemain memenangkan All England, ia tidak hanya menambah satu gelar dalam statistik karier, tetapi juga menempatkan namanya di dalam sejarah kompetisi yang telah berlangsung sejak 1899. All England Open menjadi kombinasi antara tradisi dan persaingan modern.
Baca Juga: Apa Itu Sudirman Cup? Sejarah, Fakta Unik, dan Alasan Sangat Prestisius

Penutup
All England Open memiliki perjalanan panjang yang membuatnya berbeda dari turnamen badminton biasa. Sejarah sejak 1899, daftar juara dari berbagai generasi, serta status Super 1000 menjadikan kompetisi ini tetap relevan bagi pemain dan penggemar hingga sekarang. Bagi Anda yang mengikuti badminton, memahami sejarahnya membuat setiap perebutan gelar terasa semakin bermakna.
Prestasi di lapangan juga layak dirayakan dalam bentuk penghargaan yang berkesan. Jika Anda sedang menyiapkan kompetisi, komunitas, atau event olahraga sendiri, Anda bisa membuat medali custom di Xsportsmedal untuk memberikan apresiasi yang lebih personal kepada para pemenang.


